Wednesday, September 14, 2005
Mamang
Suatu sore, PSBJ Unpad. Sambil berjongkok di depan ruang kelas yang dijadikan mushola, memakai kaus kaki dan sepatuku, kulemparkan pandang ke penjuru kampus yang indah ini. Bangunan dengan arsitektur gaya Jepang yang minimalis dan asri, taman dengan rumput hijau yang menyejukkan mata. Kuingat saat pertama menjejakkan kaki disini, pemandangan yang membangkitkan semangatku untuk belajar, dengan harapan dalam hati, suatu saat nanti akan berada di tanah Jepang. Sebulan telah berlalu. Dan sekarang, somehow, pemandangan ini terasa menyakitkan. Keindahan yang menyayat, memunculkan ambivalensi dalam hati: tawakal sekaligus melankolisme mengenai kegagalan, perjuangan yang kurasa sia-sia...

Pandanganku mengabut. Kukenakan sepatu dan segera berdiri, ketika suara ramah yang sangat familiar terdengar menyapa.
“ Neng sholat ashar dulu sebelum pulang ya, sendirian ya?Teman-temannya tos uih?“
Aku menoleh. Bapak tua yang dijuluki teman-teman sebagai Mamang ’ohayo’ berdiri di lorong. Tangannya memegang serenteng kunci.

Aku tersenyum, seperti biasa. Mamang ini selalu memakai campuran bahasa Sunda saat bertutur, dan aku, yang hanya bisa bahasa nenekku itu secara pasif, hanya bisa menjawab dengan senyuman.
Dan senyum yang kupaksakan itu ternyata membuat suasana hatiku sedikit lebih terasa enak.

Mamang itu meneruskan bicara sambil mengangkat kedua belah tangannya, “Kalau sholat jangan lupa selalu panjatkeun doa ka Yang Maha Berkehendak untuk dimudahkan jalan bagi semuanya agar bisa berangkat ke Jepang untuk menuntut ilmu...ya? Mamang juga selalu sehabis sholat berdoa agar semua diberangkatkan Allah ke Jepang.“

Mamang membungkukkan badannya. “Maaf ya Mamang bukan kiai atau orang pintar, tapi orang yang mencari ilmu disukai oleh Gusti. Karena itu mintalah kasalamatan selalu kepada-Nya. Supaya diridhoi usaha kita. Karena manusia hanya bisa berusaha dan keputusan sudah menjadi kehendaknya“.

Suara itu menembus jauh kedalam benakku. Sesuatu yang tak tampak menyentakku, membangunkanku. Kupandangi sosok berusia senja dihadapanku. Badan yang agak bungkuk, kulit sawo matang yang keriput membalut tubuh yang kurus. Sebuah luka tertutup krusta memanjang di lengan kirinya, bekas jatuh seminggu yang lalu (Hari itu aku melihat lengannya terbungkus plastik dan katanya semalam jatuh karena gelap dan ia mengobati lukanya dengan jahe campur garam).

“Maaf Neng, neneng masih kurang berapa lama ini belajarnya di Jepang?” Pertanyaan itu sedikit mengejutkanku.
“Oh, lima tahun Mang, insya Allah”
“Bukan, maksud Mamang belajar bahasanya disini, tiga bulan ya?“
“Kurang dua bulan, Mang“
“Oh iya, dua bulan. Jadi diteruskeun berdoa selalu. Ingat meminta kasalamatan ka Gusti karena manusia yang penting mah keselamatan, Neng. Dunia akhirat. Neneng dan teman-temannya yang belajar, Mamang juga yang bekerja. Meminta kasalamatan dan perlindungan. Nanti pun kalau Neneng, insya Allah kalau rezekinya, belajar di Jepang juga, maaf , jangan dilupakan berdoa selalu kepada Yang Maha Kuasa. Jangan sampai melupakan tujuan untuk akhirat nanti ya..”
Aku mengangguk tanpa kusadari. Rasanya aku dibawa pulang ke suatu tempat yang sangat kukenali.

“Kita mah bisanya hanya berikhtiar ya Neng. Selanjutnya apapun keputusan Gusti supaya kita dalam ridhonya selalu saja, itu sudah cukup ya Neng. Maaf ya Neng Mamang bukan menggurui, masih sedikit ilmunya..“

Kenudian ia bertutur mengenai kebiasaan saling mengucapkan salam, seperti yang kami diajarkan selama sebulan ini : ohayo gozaimasu, konnichiwa, konbanwa, selamat pagi, siang maupun malam, pada dasarnya saat mengucapkan salam itu kita berdoa untuk keselamatan pada hari itu. Serupa dengan ajaran dalam Islam, assalamu’alaikum berarti doa untuk keselamatan.

Mamang membungkuk kemudian berpamitan melakukan tugasnya mengunci pintu-pintu. Tubuh rentanya menghilang di belokan.

Aku masih mematung, menyadari kebodohan yang kulakukan tadi malam, menangis semalaman untuk sesuatu yang bahkan tidak kuketahui maknanya. Saat kuhela nafas, udara terasa memenuhi rongga dada yang kini lapang
Angin sore Jatinangor berhembus. Langit luas bersih kebiruan. Kutatap lagi shokudo dan aula berdinding kelabu, jalan setapak dari batu disela-sela rerumputan, atap-atap berwarna hitam yang kontras dengan warna langit yang menaungi. Wajah alam yang cantik dan megah. Subhanallah!

Betapa hidup dalam setiap detik dan sudutnya menyimpan keindahan tersendiri.

Dengan langkah ringan kuturuni anak tangga, dan berjalan menuju pulang.

(“Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan“-Umar bin Khattab. Sungguh beruntung mereka yang mampu menangkap hikmah dalam kehidupan.)
posted by leppy @ 12:27 AM   0 comments
 
 
About Me


Name: leppy
Home: Japan
About Me:
See my complete profile

Previous Post
Archives
Links
Template by
Free Blogger Templates